Senin, 25 November 2013

The letter


Dia hanya menghela napas setelah membaca surat itu. Berharap dia bisa merelakan semudah helaan napasnya tadi.
Gadis itu diam, dan membaca surat itu lagi. Lalu menghela napas lagi. Berulang kali dia lakukan itu. Menghela napas lalu membaca ulang.
Harusnya dia menangis, dia tahu. Tapi bahkan hatinya sudah begitu lelah sehingga rasanya mati rasa. Dia tidak menangis kali ini, malah tertawa ringan.

Dia menangkap kalimat,"kamu jangan sedih, aku nggak suka liat kamu sedih" kesekian kalunya.
Gadis itu menghela napas lagi. Dia harus bisa merelakan. Dia tahu itu. Si pengirim surat juga menyuruhnya untuk melanjutkan hidup. Untuk apalagi dia memperjuangkan?

"Makasih atas dua setengah tahun menunggunya, aku hargain itu, tapi maaf aku gabisa bales apapun ke kamu, aku tau itu sakit, tapi aku emang gatau aku harus apa." isi surat itu.
Gadis itu diam. Matanya sudah berkaca-kaca. Tapi dia tidak berani menangis.

"Makasih buat scrapbooknya, makasih sudah mau repot-repot buatin, bagus kok masih aku simpen."
Gadis itu ingat ketika dia membuat scrapbook itu susah payah dengan hatinya. Gadis itu membuat scrapbook itu sebagai hadiah ulang tahun si pengirim surat satu tahun lalu. Dulu, gadis itu begitu takut karyanya tidak akan dihargai, padahal dia membuatnya dengan hati. Setelah membaca surat ini, gadis itu cukup senang karyanya dihargai.

"Soal puisi kemarin, bagus kok, aku mengerti maksudnya. Ya gitu deh pokoknya.."
Puisi itu, baru saja gadis itu berikan pada si pengirim surat, sekitar seminggu sebelum surat itu datang.
Gadis itu tersenyum ketika dia membaca bagian ini. Si pengirim surat sebenarnya ingin menjelaskan puisinya, tapi dia tidak tahu harus berkata apa.
Ulang tahun si pengirim surat tahun ini, gadis itu membuat puisi singkat di kertas kecil warna perak:
"Hai bintang jatuh, ingatkan dia akan persahabatan yang runtuh, ingatkan akan aku yang menunggu kabarnya dari jauh. Selamat ulang tahun."
Gadis itu menahan air mata sebisanya, dia tahu dia tidak boleh menangis. Memang biasanya dia jatuh dan meleleh lalu menguap sendirian. Ini memang salahnya. Harusnya dia tidak jatuh sekeras itu.

Dia menutup matanya dan suratnya, memeluk suratnya lalu menghela napas. Gadis itu diam dan perasaannya menguap sendirian.
-Nexia Nevarachell, 25 November 2013. Terimakasih suratnya ya!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar