Kamis, 12 September 2013

Somebody That I Used To Know

HAIIIII rek, akhirnya aku posting lagi^^
Dari sabtu kemarin, Nexia pengin banget posting cerpen, tapi tidak ada internet huft. Jadi nih, ceritanya Nexia lagi bimbang. Jadi kutuangkan di cerpen begini, ceritanya nggak nyata kok, tenang aja. Nexia toh nggak mau bikin gara-gara. Semua yang kutulis bukan berarti kamu, benar?
So, enjoy! Semoga suka yah, rasanya ini cerpen pertamaku dimana aku meninggalkan zona nyamanku (yang nggak ngungkit-ngungkit soal mantan buahaha) and may the odds be ever in your favor!
***


"Rek, ada yang lagi pacaran tuh. Hahahahaha," kata Rivan sambil melirik-lirik ke tangga yang menghadap lapangan.
"Siapa tuh?" tanya Shinta.
"Salsabila sama putra tuh," jawab Fina.
Aku yang sedang membantu Fina dan Edo mengurai tali repling yang terbelit akhirnya ikut melihat yang dibicarakan tadi. Dan seketika, aku langsung kaget.
Yang mereka maksud itu bukan putra yang duduk di kelas delapan tetapi yang kelas sembilan.
Edo melirikku saja, tetapi aku mengerti maksudnya.
"Ra, kamu jangan patah hati ngeliat mantanmu pacaran sama orang lain,"
Tapi aku malah tertawa keras, "Bahahahaha apaan ngapain juga sakit hati hahahahaha toh dia juga ada cewek baru,"
"Kelihatan sekali bohongnya," celetuk Anggi.
Aku langsung diam dan menarik-narik tali repling lagi.
Lalu aku melirik Salsabila dan Putra lagi. Aku mengernyitkan keningku.
Dulu, Putra tidak bakalan mau menemuiku seblak-blakan itu di sekolah. Walaupun aku ingin mengatakan hal yang penting pun dia tidak bakalan mau menemuiku di sekolah seperti itu. Ugh.
Baiklah, aku sudah tahu kalau Putra balikan dengan mantannya itu, si Salsabila. Siapa yang tidak akan tahu? Mereka memasang nama pasangan mereka di bio twitter mereka. Dan sering tiba-tiba berpacaran di grup whatsapp.
Sedangkan, dulu, si Putra bahkan tidak mengakuiku sebagai pacarnya.

Tapi, aku mengakui, aku baru pertama kali punya pacar waktu itu, ketika putus juga aku menjauh dari kehidupan Putra (well, dan berhasil). Tapi...............aku bingung................................kenapa rasanya sakit sekali ya melihat Salsabila dan Putra berpacaran di sekolah begitu?
****
"Kok sakit ya, padahal dia kan sudah punya pacar......." kataku.
"Lho kamu masih suka?"
"Enggak, aku kaget aja. Kok sakit sih, Yaaaak?!" tanyaku lalu mengguncang-guncang Naya.
"Yah ada perasaan nggak relanya lah kamunya," jawab Naya.
"Tapi kan aku sudah menjauh dari dia, Nay?"
"Kamu menunggu Putra sepuluh bulan, Ra,"
"Dan jadian selama tujuh belas hari!" timpal Dinda.
"Memang Salsa tuh sudah balikan ya sama Putra?" tanya Naya.
"Sudah, di grup whatsapp juga mereka sering pacaran gitu," jawab Dinda.
"Aduh sudah deh, Ra. Jalang kok dipikirin," kata Naya.

"Sebenarnya kata jalang itu tidak perlu tapi terimakasih. That was comforting," kataku.
"Haha, I know,"
****

"Kamu cemburu?" tanya Putra tiba-tiba. Ketika aku menunduk seperti biasanya bila berpapasan dengannya.

Aku mendongak, "Ha?"
"Kamu kemarin di lapangan ngeliatin aku terus," kata Putra.

Hening.

"Enggak," sergahku.
"Bohong,"
"Enggak,"
"Bohong,"
"Oke, fine. Aku cemburu, puas?"
jawabku sinis. Padahal juga tidak.

"Bohong," kata Putra lagi.
"Kamu mau mengajak aku duel atau bagaimana," kataku lagi.

"Sebenarnya, ada hal yang ingin kutanyakan sih, Ra." ucap Putra.
"Apa,"
"Sebenarnya benar tidak sih kalau kamu sudah move on ketika kamu minta putus?"

Hening.

"Buat apa kamu tanya begitu?"
"Cuma penasaran."
"Sudah kok," kataku lalu menerawang jauh.
"Sama?"
"Ih kepo amat,"
"Soalnya kamu kelihatan tidak suka siapa-siapa sih," kata Putra.
"Kalau aku sudah move on sama hidup aku, kamu bicara apa?" tanya lalu bersedekap. "What's the point of this? Buat apa sih kamu tanya seperti ini? Kamu sudah punya pacar,"
"Memang, tapi aku tahu kamu tidak seratus persen jujur ketika minta putus, cuma itu."
"Harus tanya sekarang ya?"
"Iya."
"Tumben kamu peduli?" tanyaku ketus.
"Aku daridulu peduli, Ra. Yang tidak merasa juga kamu," kata Putra.
"Bandingin how you treat Salsa and me," kataku.
"Oh itu." ucap Putra pendek.

"Saat itu aku juga capek mengatakan hal yang tidak sebenarnya hanya untuk menyenangkan kamu saja, aku capek nurutin ego kamu, aku juga capek nurutin gengsi kamu. There, I said it." jelasku.

Hening kembali.

"Kamu juga ketika kudekati juga menjauh, Ra. Kamu merasa tidak?"
Deg. Aku diam saja. Lalu mengangguk pelan.
"Kamu takut pacaran kan?" tanya Putra.
"In this case, kita sama-sama salah," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Memang, dan aku mau minta maaf."
"Yeah, me too." ucapku kaku.
"Seriusan nih,"
"Iya udah serius," jawabku. "Kamu tahu kan aku baru pertama kali pacaran, jadi aku juga.... Hm. Bagaimana ya aku menjelaskannya, ya ketika melihat kamu pacaran kemarin ya rada kaget juga sih."
"Oh begitu,"
"Aku juga bingung, kenapa aku bisa seperti ini. Aku bingung kenapa aku bisa sakit hati dan unstable dalam waktu sekejap seperti itu, Tra," kataku lagi.
Lalu, kami diam lagi.
"Kamu tahu nggak, Ra? Setelah putus kamu terlihat bahagia begitu, terus menjauh. Dan kamu lebih aktif di kegiatanmu, jadi aku move on saja."
"I don't mind kok, aku bilang kan aku move on ke hidupku. Kalau kamu mau move on juga terserah," kataku.
"He-eh." ucap Putra pendek.
"Oke, I have to go," kata Putra lalu berjalan menjauh.

"Putra!" panggilku.
"Apa?" tolehnya.
"Kenapa kamu bisa tahu aku tidak jujur ketika minta putus?"
"Yah, soalnya kamu nunggu sepuluh bulan, tapi kamu baru jadian tujuh belas hari."
"Haha, you know me so well."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar