Senin, 05 Agustus 2013

#ProyekMenulisRandom: Day 1

HAAAAAI readers! Akhirnya Nexia kembali mengepos setelah satu bulan ini nge-posting Flash Fiction. Tapi sekarang akunya juga mau ngeposting cerpen sih.
Gila, dari bulan-bulan yang kelam lalu, sekarang rasanya baru nemu jiwanya Nexia kembali. Dan mari kita rayakan dengan bernafas panjang. Huffft.

Dan setelah sekian lama juga aku tidak pernah curhat disini, karena..........................halah kalian tau lah rek. Hanya merapikan dan memperbaiki hati yang retak. Hanya retak, tapi nggak patah.
Nggak patah.
Tapi aku ya rada' retak juga, ngerasa sedikit hancur juga. Tapi ya mau gimana? Toh nggak bisa diulangi lagi kan? Toh juga kalau bisa mengulang, aku juga tidak mau.
Dan, selama masa-masa kelam kemarin, Nexia dapat pencerahan juga. Pencerahan naskah novel, bung! Dan ini niatnya udah 56% mantap mau buat, tapi mulai sekarang harus mengumpulkan niat nih akunya! HU-HA! Doain ya rek.
So, enjoy cerpennya, may the odds be ever in your favor ya!

***
Ini hari pertamaku di kelas baru ini. Dan mengambil baris ketiga tempat duduk sepertinya tidak masalah.
Toh, aku tidak terlalu bersemangat untuk ini. Dan aku juga tidak terlalu peduli.
Aku duduk dan menunggu guru yang akan mengajar. Aku diam dan memasang earbuds-ku di balik jilbab dan mendengarkan lagu. Suara gaduh murid kelas ini pun terkalahkan oleh kerasnya volume musik yang kunyalakan.
Lalu tiba-tiba sesorang menepuk bahuku dengan keras dan menarik earbuds-ku dengan cukup kasar.
"A-ul! Berhenti!" katanya. Aku hanya meliriknya sinis.
"Berhenti apa?" kataku datar mulai menunduk untuk membaca novel.
"Berhenti bersikap kesepian."
"Hah?"
"Aku tahu sejak kamu putus, kamu jadi pendiam begini,"
"Kucamkan lagi ya, Zi. Aku senang ketika harus pisah. Aku senaaaaaaang sekali," ucapku dengan nada ceria yang dibuat-buat.
"Tapi kamu sudah tidak mau percaya lagi kan?"
"Percaya apa?" tanyaku.
"Percaya kalau kamu ternyata punya perasaan. Kamu nggak harus jadi anak yang tidak berperasaan itu, kamu tahu."
"Ha-ha, you're funny." kataku sinis untuk menutupi kata-katanya yang ternyata benar.
Fauzi hanya merengut.
"Apa?" tanyaku.
"Aku serius," kata Fauzi.
"Aku juga,"
"Lalu apa?"
"Tidak apa-apa, apa aku salah kalau aku sudah melanjutkan hidup?"
"Itu bukan hidup, tapi hanya tidak-mati. Dan ada perbedaannya. Besar." kata Fauzi. Aku menghela napas.
"Salah kalau aku sudah yakin kalau aku tidak akan memperjuangkan cintaku lagi?" kataku. "Kamu tidak mengerti, Zi."
"Mengerti apa?"
"Aku hanya tidak ingin jatuh ke jurang yang sama."
****

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar