Rabu, 17 Juli 2013

#FF2in1: Truly

"Ayolah, Sil. Please." kata Alvan memohon padaku. Aku bahkan belum sempat menggeser nampan makan siangku!
"Nggak. Aku nggak mau jalan denganmu, Alvan. Dan aku sudah menolak ajakanmu ini sekitar tiga puluh sembilan kali." tolakku lagi.
"Oh, come on. Just one date. Dan aku nggak bakalan ganggu kamu lagi." paksa Alvan keempat puluh kalinya.
"Oh, oke. Kamu memang baik, Van. Tapi sebenarnya, hm, kau tahu, aku sudah punya pacar."
"Ya, tapi kamu juga nggak keliatan kayak sayang Firman juga 'kan?"
"Masih nggak keliatan." kataku ketus.
"Aku nggak peduli, pokokya aku pengin ngajak kamu jalan, Silvy."
"Kamu tahu? Mungkin benar katamu kalau aku seperti tidak sayang Firman, Tapi walaupun begitu aku juga tidak akan jalan denganmu." kataku sambil mencari tempat untuk makan siang.
"Ayolah, Sil." paksanya dan mulai menarik tanganku.
"Duh, lepasin! Ini di Pujasera tau!"
"Enggak, sebelum kamu bilang iya atas ajakanku." katanya.
"Itu ultimatum? Pokoknya engg.." kataku terputus karena aku kaget oleh kedatangan Firman yang memukul wajah Alvan dengan keras. Aku ulangi, dengan sangat keras.

Aku hanya diam dan ternganga. Maksudku, kami sedang berada di tengah-tengah Pujasera dan murid-murid mulai mengerumuni kami. Dan, Alvan mulai membalas pukulan Firman.
Mungkin Alvan benar tentang ketidaksayanganku pada Firman, tapi aku tetap tidak mau pacar-yang-mungkin-tidak-kusayangi itu terluka gara-gara Alvan.
Kau tahu apa yang kulakukan? Aku menerjang Alvan dan aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.
***
Entahlah ini tempat apa, pokoknya tempat ini berdinding putih dan tempat ini terang sekali. Lalu aku sadar aku berada di Ruang UKS sekolah.
Dan orang yang pertama kali kulihat adalah Firman. Iya, Firman yang itu. Yang tadi berkelahi untukku.
Dia menatapku tepat di mataku dan aku baru sadar kalau bola matanya berwarna cokelat dan itu indah sekali. "Kamu nggak apa?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Dasar, bodoh." kata Firman lagi.
"Hah?"
"Harusnya kamu nggak usah menerjang si Alvan itu segala, kan niatnya aku melindungimu." katanya lalu tersenyum kecil sendiri. Oh Tuhan, ternyata dia keren sekali. Aku baru sadar kenapa banyak cewek yang iri denganku.
"Yah, at least, aku ngga ingin pacarku dipukuli cowok maniak." kataku. Lalu dia tertawa kecil. Entahlah, mungkin wajahku sudah memerah saking kerennya dia.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Sil." katanya. "You're the only one."
Haha, entahlah. Aku ingin menangis haru karena kata-katanya barusan. Aku selama ini yang tidak menyadari betapa aku beruntung memilikinya yang sangat menyayangiku.
"Haha, aku sayang kamu." kataku.
Dia terdiam. "Katakan lagi," katanya.
"Aku sayang kamu, Firman. Setelah sekian lama, aku baru sadar betapa beruntungnya aku."
Dia tersenyum. I can't resist his charms.
"Aku juga, kok, Sil. Aku sayang sekali." katanya.

Mariah Carey - Endless Love

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar