Senin, 26 Januari 2015

Akhir Cerita Malaikat



Pernahkah kamu
Menggulung diri di kasur dan
Hanya menangis
Menangis karena kamu tidak pernah cukup baik
Kamu menghitung segala kekuranganmu dari kepala hingga kaki lalu kamu merasa buruk
Menangis karena ternyata komentar orang-orang selama ini membuatmu sakit. Perasaanmu sakit. Hari demi hari, kian menyakitkan.
Menangis karena keluargamu disfungsional dan kamu tidak bisa berbuat apa-apa karenanya
Mereka menyuruhmu untuk bersyukur karena lebih beruntung dari anak-anak yang kurang mampu
Dan memaksamu untuk menjadi lebih baik lagi
Tetapi,
Bagaimana jika kamu sudah mengerahkan segala kemampuanmu untuk menjadi yang terbaik?
Bagaimana jika itu masih belum cukup dengan standar kebaikan mereka?
Jadi kamu tidak ingin menjadi beban, lalu kamu hanya menahan segalanya, sendirian.
Di depan semua orang, kamu secerah cahaya matahari, tetapi tidak ada yang tahu,
Di dalam kesendirian, kamu menangis sendirian.
***
Itulah yang dirasakan Angel sekarang. Kehampaan ini memakan hatinya, juga perasaannya. Dan dia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Angel sudah tidak tahan lagi. Dia depresi.
Sedepresi itu sehingga sekarang, ia berada di atap sekolahnya, dan bersiap melompat. Bahkan ia mencuri sayap malaikat dari klub teaternya sekarang.
Menghela nafas, buang.
Jantungnya berdetak keras sekali. Seakan berontak, menolak. Namun, Angel sudah tidak kuat lagi.
Air matanya meleleh. Angel menghela nafas panjang.
Jika melarikan diri, dengan cara seperti ini, adakah yang menahannya?
Atau bahkan merindukannya?
Angel tersenyum kecil, mencemooh ketidakmungkinan itu.
Menghela nafas panjang lagi, lalu ia mengusap air matanya.
Dan dia melompat. Dan memulai hitung mundur.
Lima…
                Ayah Angel selalu menyukai nama Angel. Malaikat. Sejak kecil, ayah Angel suka memanggil Angel dengan malaikat. Angel sendiri menganggap ayahnya sebagai sayap malaikat. Angel kecil tahu tanpa ayahnya, ia tidak bisa terbang. Ia tidak akan bisa seperti sekarang. Ayah Angel pun menyukai metafora itu. Malaikat dan sayapnya.
                Malaikat percaya pada sayapnya dan terbang tinggi. Setinggi nirwana.
Kecuali, jika suatu hari, sayap itu rusak dan malaikat tak punya siapapun untuk dipercaya.
                Angel ingat sekali ketika ayahnya memberi kecupan selamat tidur lalu menghilang keesokan paginya.
                Meninggalkan Angel. Meninggalkan malaikat sendirian.
Angel tersenyum kecut.
Bahkan dalam jatuh ini, sayap malaikat klub teater tak bisa menolongnya.
Malaikat dengan sayap bohongan,  mencoba percaya.
Empat…
                Angel selalu ingin jatuh dari ketinggian. Angel ingin sekali merasakan..
Jatuh yang tak terhingga ini.
                Dengan angin yang menerpa wajahnya, rambutnya, bahkan sayap palsu ini.
Dan, dia menyukai momen tak terhingga ini. Angel merasa bebas.
Tiga…
                Dia selalu menjadi terbaik-kedua. Angel selalu begitu. Angel cukup lelah dengan segala hal yang berkaitan itu. Angel cukup lelah menjadi pilihan kedua atas apapun. Walau dia sudah menjadi yang terbaik – dia harus menjadi yang terbaik, seperti perintah ibunya – itu tidak pernah cukup.
                Bahkan komentar-komentar yang Angel terima mayoritas buruk, walau dia mengerahkan segalanya.
                Tidak adakah yang menghargai usahanya?
Mereka tidak tahu bahwa komentar-komentar mereka menyakitinya. Tidak ada yang tahu pada tengah malam, di dalam kamarnya Angel menangis sendirian.
                Meneriakan teriakan sunyi, tidak tahan.
Tanpa ada yang tahu, jiwanya sayu.
            Tanpa ada yang tahu, hatinya layu.
Dua..
                Sebenarnya, adakah yang bisa Angel pertahankan?
Malaikat dan sayapnya
Keluarganya
Atau bahkan teman-temannya?
Adakah yang layak ia perjuangkan?
                Ayahnya, keluarganya, atau bahkan komentar-komentar itu?
Perlukah dia memperjuangkan penyebabnya terjun di momen tak terbatas ini?
                Perlukah dia percaya?
Bila semua ini bisa menjadi lebih baik, dan ia bisa mengenangnya dikemudian hari?
Bila cinta ayahnya masih ada,teman-temannya menyayanginya, bahkan komentar-komentar itu, pada suatu hari akan berubah?
Apakah dia sudah berhenti percaya pada cinta?
Sa..
Apakah harusnya dia melompat dari ketinggian dan menyerah?
..tu.
Dan, setelah menikmati momen tak terbatas, hingga merasa bebas. Gadis itu jatuh ke tanah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar