Sabtu, 12 April 2014

What if.

Padahal aku tidak merasa kurang sehat atau apa, yah mungkin sedikit tidak enak badan karena cuaca sedang dingin.
Tiba-tiba aku tidak sadar, itu saja.
Ketika sadar, aku sudah berada di UKS sekolah.
"Lho, aku kok bisa ada disini?" ucapku lalu berusaha bangkit.
"Ain! Kamu kok bisa pingsan sih!" cecar Lisa, sahabatku.
"Hah?"
"Hah-hah aja! Sadar hoi!"
Tapi aku belum sepenuhnya mengumpulkan ruh.
Baru sepenuhnya aku sadar, ketika ada yang melempar permen peppermint tepat di jidatku.
"Aduh!" seruku. Lalu, kuambil permen tersebut.
"Eh, Fizh! Jahat amat sih orang baru pingsan gini malah dilemparin!" sahut Lisa heboh.

Hafizh? Sedang apa dia disini?

Tapi sebelum kutemukan alasannya, dia pergi.
Ternyata permen peppermint barusan adalah permen yang biasanya memiliki pesan-pesan pendek di belakang bungkusnya.
Dan punyaku bertuliskan, "'Napa sih lo?"
Dih, Hafizh kacangan.
Tapi bagaimanapun juga, itu membuat senyumku merekah.
***
"Kamu tau aku paling benci yang namanya permen peppermint." kataku ketika melihatnya keluar dari ruang OSIS, sendirian.
"Haha, ya biar nyobain aja gitu, siapa tau suka," ujarnya sambil mengenakan earphone di telinganya.
"Kacangan tau nggak?" candaku. Dia tersenyum kecil.
"Memang kemarin kamu kenapa sih?" tanya Hafizh.
"Nggak tau.." jawabku. "Padahal aku sehat-sehat aja,"
"Oh gitu..."
"Kenapa? Khawatir ya?" candaku.
"Hah? Maksudnya?"
"Halah, lupakan."
Lalu hening.

"Ya jelaslah aku khawatir," ucap Hafizh pelan.
"Bohong tuh, pacar aja bukan," kataku pura-pura ngambek. Tapi pasti aku tidak bisa menyembunyikan senyumku.
Lalu, tiba-tiba dia mengulurkan earphone-nya padaku, memintaku untuk memasangnya.

Stripped and pollished, 

I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious,

You and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
When you are sitting next to me
Will bring life into my deepest hopes, 

What's your fantasy?

"Maksudnya apa ya?" tanyaku setelah mendengar Your Call oleh Secondhand Serenade.
"Kurang jelas?" tanya Hafizh.
"Sebenarnya jelas, tapi aku takut dibilang gede rasa nih hahahaha," jawabku gugup.
"Yah, gimana kalau gini.." ucapnya sambil menatap mataku.
"In, kamu mau nggak jadi pacarku?"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar