Rabu, 01 Agustus 2012

Pilihan.

 Terkadang aku pengin gitu kembali ke masa lalu. Mikirin semua pilihan-pilihan yang telah dihadapkan padaku. Memikirkan semua keputusan yang telah ambil. Lalu, memikirkan resiko atas semua yang aku pilih.
Kadang aku mikir, "Coba kalau aku dulu mau milih MTs, aku sekarang pasti sek sahabatan sama Ian."
"Coba kalau dulu aku milih masuk MTs, aku bakalan lebih invisible dari ini. Dan nggak bakalan ada masalah kayak gini."
"Coba kalo dulu aku masuk MTs... Aku bakalan lebih invisible.."
"Yah, kalo aku lebih invisible pasti ngga bakalan gini."
Ternyata aku baru menyadari kalau aku itu cepet ngambil keputusan. Dan sering menerima banyak resiko.
Dan aku tetep mikir, "Coba kalau aku masuk MTs, aku ngga bakal gembeng."
"Coba kalau aku masuk MTs, aku ngga bakal nangisin orang itu."

Ternyata aku sadar, kalau aku masuk MTs aku bakalan lebih invisible seperti biasanya di SD. Kalau aku invisible bakalan less drama. Karena memang aku pas SD sangat less drama karena aku SE-invisible itu. Jadi, itulah yang membuat sikapku yang seakan masa bodoh dengan semuanya. Iya memang, dulu aku memang masa bodoh dengan kakak kelas.
Aku tetap berharap aku invisible. At least, kakak kelas ngga bakal ngerasani kamu alay atau bahkan kakak kelas ngga bakal ngomongin kamu karena emang mereka ngga kenal.
Kadang aku capek lho, sok sabar ketika di-bash kakak kelas. Atau bahkan kakak kelas yang sudah aku anggap kakak sendiri.
Yah memang aku labil. Tapi apa daya? Keputusan memang sudah aku buat. Aku sudah tak bisa merengek untuk minta kembali ke masa lalu. Ketika semua seakan seperti baik-baik saja. Padahal tidak.
Memang, semua akan memutuskan sesuatu yang berat, atau bahkan mereka akan merelakan sesuatu yang mereka anggap berharga.. Tapi memang sudah takdirnya begitu. Mereka akan merelakan dan mereka akan mendapatkan sesuatu yang baru, mungkin kenangan yang baru atau sesuatu yang berharga yang baru.
Semuanya emang harusnya worth it lah sama semua yang kita korbankan. Harusnya semuanya... Ada indahnya.

Aku memang sudah merelakan hal-hal berharga, untuk yah.. Emm.. memang ini tidak pasti. Tapi aku tidak tahu.. Mungkin masa depan yang telah di rencanakan untukku? Rencana yang lebih baik dari Allah? Entahlah.

Tapi aku menemukan sedikit titik positif, seperti, "Oh iya, kalau aku masuk MTs belum tentu aku ketemu pramuka."
"Belum tentu aku kenal orang itu. Dan belum tentu pula aku menemukan orang yang lebih berarti."
"Belum tentu aku bisa ketemu blackpearl dan bahagia didalamnya."
Mungkin hal-hal seperti itulah rencana Allah yang ditujukan padaku. Walaupun aku harus menerima lebih banyak drama dalam hidupku,  walaupun ini lebih menyakitkan daripada yang aku tahu dan walaupun.. Ini sudah membuatku merelakan sesuatu yang berharga.

Tapi, hey. Aku mulai bisa mengatasinya. Aku mulai terbiasa.

Bismillahirahmanirrahim. Semoga ini bisa menjadi awalan untukku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar