Selasa, 15 Mei 2012

How I miss my dad

Dia mulai berhenti dalam langkahnya pulang kerumah. Dia diam, mulai memikirkan sesuatu. Anak perempuan itu meneruskan perjalanannya. kali ini tetap ia memikirkan sesuatu.

"Kamu sekarang kok sering seh minta pulang sendiri ? Kenapa? Nggak ada daddy a ?" kata kata dari ibunya itu terngiang dalam pikirannya.
Dia mulai menyadari, kalau sekarang dia sering minta untuk tidak dijemput. Tapi kenapa ? dia mulai berpikir lagi.
Mungkin iya, dia merindukan ayahnya. Dia merindukan ayahnya yang menjemput dirinya. Padahal ayahnya hanya sedang bekerja di Sulawesi. Mencari uang demi dirinya dan keluarganya.

 Tapi, anak perempuan itu hanya merindukan kasih sayang ayahnya. Itu saja.
Dia merindukan disaat ayahnya dan keluarganya bercanda bersama-sama
Dia merindukan disaat ayahnya sudah menunggu di depan sekolahnya untuk menjemputnya.
Dia merindukan lelucon ayahnya yang mengejek-ejek cowok yang dekat dengannya.
Dia merindukan ketika ayahnya menyuruhnya tidur saat dia terlalu asyik bermain Internet.
Dia merindukan ayahnya ketika Beliau menonton film perang dan sihir yang Beliau sukai.
Dia merindukan ayahnya ketika ayahnya membangunkannya untuk shalat subuh.
Ya, Dia merindukan ayahnya.
Tapi selama ini, anak perempuan itu hanya diam saja di depan ibunya dan kakaknya.

Dia mulai melirik jam tangannya. Sudah jam Setengah lima, dia makin bergegas. Dia mempercepat jalannya.
Sesampainya di depan rumah, dia melihat Om Wisnu, tetangganya, baru pulang kerumah Beliau. Anaknya yang berumur dua tahun dan bernama Kevin langsung berlari keluar dan senang sekali menyambut Papa nya datang. Om Wisnu melihat anak perempuan itu, Om Wisnu mencoba beramah-tamah, "Lho, mbaknya baru pulang. Kevin. Itu lho ada mbaknya baru pulang." Katanya sambil tersenyum kepada anak perempuan itu . Lalu, Kevin dengan tetap semangat mengatakan," Haloo mbak, Papaku sudah pulang lhoo". Kevin senang sekali. Sekali lagi anak perempuan itu hanya tersenyum lalu dia masuk rumah dan masuk kamarnya.

Bahkan dari kamarnya dia bisa mendengar suara Kevin dan Papanya yang bersenda gurau.

Dia iri. Dia tahu dia bisa lebih bahagia dari itu jika ayahnya disini. Dia mulai menangis dan berpikir,"Coba daddy disini. pasti minggu ini tidak akan seberat ini." Ya, dia memang memiiliki masalah minggu itu.
"Coba daddy disini, pasti aku udah pulang daritadi dijemput daddy."
"Coba daddy disini, pasti aku tidak menangis sekarang."
"Bodoh, kenapa aku menangis ?" lalu pikirnya sambil menyeka air matanya.
"Daddy pasti tidak ingin melihatku menangis. Dia ingin aku menjadi anak perempuan yang kuat. nggak nangisan kayak gini."

Dia menyeka air matanya. Lalu, menahan tangisnya. Gagal.
Handphonenya bergetar, tanda sms masuk. Dari orang yang dia ragukan. Dan dia benci. Dia banting Handphone itu.
Tangisnya semakin keras. "Aku merindukan daddy. Aku butuh daddy." ucapnya lirih terus menerus. "Dad, tolong aku. Aku wes nggak kuat gini terus."
"Aku harus apa .."
"Mama sibuk ,Dy. Mama nggak ndengerin aku..."
"Kakak terlalu sibuk dengan pacarnya, Dy. Kakak menganggap semua semudah itu. padahal tidak"
"Aku rapuh, Dy. Aku nggak sekuat yang aku kira. Aku sudah jatuh. Tolong aku."
"Daddy kapan mbalik ? Aku butuh sekali."
Dia mulai berbicara sendiri seakan ada ayahnya didepannya.
"Dy, yakinkan aku biar aku nggak usah nangis. Sekali lagi yakinkan aku untuk menjadi gadis yang kuat. Gadis yang ceria seperti biasanya. Yang alay seperti biasanya." lalu dia tersenyum sendiri. Dia tersenyum dalam tangisnya.
"Tolong, Dy. Aku takut. Aku butuh seseorang."
Lalu dia menangis lagi selama setengah jam. Dan lalu, akhirnya dia bernafas panjang. Mencoba menjadi gadis yang kuat yang diharapkan ayahnya.
Lalu ada telpon masuk, dari Daddynya.
"Halo, Assalamualaikum. Chell, kamu sudah sampek?" tanya Beliau langsung.
"Waalaikumusalam, Dy. Sudah. Daddy kapan pulang?" kata anak perempuan itu langsung dan terdengar .. Berharap.
"Oh, Insyaallah tangga dua puluh mei. Doakan ya"
"Iya, Dy. tak doakan" ucapnya ceria.
"Yasudah, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Lalu anak perempuan itu tersenyum.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*maaf ceritanya rada terlalu asli
XOXO,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar