Kamis, 15 Mei 2014

Now and then?

Ponselku bergetar lagi, padahal sudah kuabaikan. Ternyata telpon dari Adam. Akhirnya kuangkat saja.
"Trisha? Hoi."
"Apaan"
"Lihat Siska nggak?" tanya Adam. Sudah kuduga dia akan tanya-tanya pacarnya ada dimana.
"Tauk, deh." kataku ogah-ogahan. Padahal, Siska sedang di depanku dan bercanda bersama semuanya. Hanya kali ini saja, Adam tidak ikut. Dia sedang pergi main game dengan Dio dan teman-temannya.
"Serius, Trish. Kangen nih!"
Lantas?

"Yah, Siska lagi sebelahan sama Fian tuh," jawabku santai. Sedikit ogah-ogahan karena aku sedang mengamati orang lain. Yang sudah sekitaran 2 bulanan setelah aku putus dari Dio, namanya Raka.
"Trish?"
"Apaan sih"
"Siska sebelahan sama siapa?" tanya Adam lagi. "Sama Fian, tuh."
"Aduuuh kok bisa sama Fian sih," katanya.
"Mana aku tahu. Udah ye." kataku ingin buru-buru memutus telpon. "Bentar hoi, bilangin Siska.."
"Apaan?"
"Suruh pindah tempat."
"Ya Tuhan, Dam."

"Udah deh, bilangin aja. Kamu kan baik, Trish." ucapnya.
"Halah, kalo ada butuhnya aja." balasku. "Emang kamu dimana sih? Demen amat ngegame."
"Di rumahnya Sulthon nih. Sama anak-anak," jawab Adam.
"Sempet aja nelpon."
"Apa sih yang enggak buat Siska?" kata Adam.
"Kampret, Dam. Bikin pengin napuk tau nggak," kataku.
"Udah bilang Siska?" tanyanya. Aku langsung menjauhi ponsel lalu menyuruh Siska menjauh dari Fian.
"Hah, emang ada apaan, Trish?" tanya Siska.
"Tanya tuh pacar kamu, udah deh nurut aja." jawabku. Lalu, Siska menjauhi Fian.
Aku mendekatkan lagi ponselku, "Udah."
"Makasih, Trish." ucap Adam.
"Iya iya. Udah ya." kataku.
"Sebentar Trish!"

"APALAGI SIH" ucapku hampir berteriak. Kudengar suara Adam dan teman-temannya tertawa.
"Kamu kangen Dio, nggak?" tanya Adam tiba-tiba. Aku diam.
Oh, aku mengerti maksudnya.
"Dio disitu ya?" tanyaku.
"Hah apaan enggaklah disini cuma sama Sulthon sama Akbar."
Lalu, Adam menutup telepon. Dasar nggak jelas.
***
Eh Dam," sapaku."Apaan?"
"Kata kamu, Dio pernah ngomongin aku? Cerita dong cerita." ucapku.

"Hah ngapain?"
"IYAAAA kamu pernah cerita." sanggahku.

"Oalah iya pernah."
"Gimana-gimana?" tanyaku semangat.
"Inget nggak pas aku telpon dari rumahnya Sulthon?" tanyanya. Aku mengangguk. "Yang nyuruh Siska pindah itu 'kan?"
Adam kali ini yang mengangguk.
"Kan aku tanya pas itu. Apa kamu kangen Dio apa enggak?" jelasnya. "........................Nah itu Dio yang nyuruh."
Hening.
Aku mengingat saat itu, sudah lama sekali. Itu sudah hampir setahun, malah.

"Hah?" kataku kaget. Cukup tidak percaya karena Dio sangat cuek. Dan dia sepertinya benci sekali padaku. "Oh, habis gitu dia ngomong apa?"
"Kan kamu bilangnya, 'Dio disitu ya?'" jelasnya. "Dia bilang, 'oh jadi nggak kangen.'"
"Wuidih, nggak percaya." sangkalku.
"Yaudah terserah," kata Adam lalu mengangkat bahu.


Aku diam. Tertawa kecil.
Membatin.
What will you do if I say I miss you that time? Haha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar