Kamis, 20 September 2012

Hm. Hanya sekali lagi.

Aku melangkah lagi. Berhenti lagi. Melangkah lagi. Berhenti lagi.

Sial.

Kenapa ini terus kupikirkan?

Hm. Hanya sekali lagi.
Iya, hanya sekali lagi aku begini. Kenapa rasanya aku seperti tak tahan?
Biasanya aku biasa saja. Tapi kenapa?
Duh. Terngiang lagi kata Siska tadi.
"Sebenernya aku tau dia suka siapa. Tadi dikelas aku tau. Katanya dia mau nembak Billa. Terus dia bilang,"Ngawur! Aku lho seneng adek kelas jeneng e Vitha.""
Deg. Sakit.

Jadi dia ngelirik aku buat apa? Natap aku itu buat apa? Sial. Aku merasa bodoh. Aku merasa rejected.
Aku memang bodoh. Mungkin itu memang yang dia lakukan kepada semua orang.

"Lho, bek. Jangan galau a, bek. Maaf. Maaf." kata Siska.
Aku diam. Mengangguk.
Sial. Jadi buat apa aku melirik-liriknya di dekat ekstrakulikuler bahasa inggris? Aku memang bukan levelnya. Jauh sekali. Kenal saja tidak.
Buat apa dia sok-sok melirikku? Duh. Kamu terlalu bodoh, Chell. Ini keterlaluan.

Aku tahu Vitha itu siapa. Dia anak kelas 7 yang memang cantik sekali. Dan aku tau siapa Billa itu. Dia juga cantik sekali. Duh.

Ternyata selama ini waktuku terbuang, Sial. Sama saja, dia sama seperti itu. Seperti cowok itu.
Menyebalkan sekali. Aku tahu aku tidak cantik. Aku sudah cukup tahu.

Tapi ini, kusangka. Dia tidak seperti itu. Ternyata sama saja. Ugh.

Setelah itu Siska mengatakan itu, Aku mengajak Putri untuk cepat pulang.

Jadi kesimpulan yang bisa dipetik dari cerita diatas ialah, semua cowok itu sama saja. Kalau kau tidak cantik, tentu saja.

Dan kamu penasaran siapa cowok berekstrakulikuler bahasa inggris itu? Nggak usah kepo. Idiot, semua nama kusamarkan selain Putri dan Siska.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar